Minggu, 26 Januari 2014

Kisah Sahabat Nabi - Salman Al Farisi, Pejabat Yang Sangat Sederhana


Kisah Sahabat Nabi - Salman Al Farisi, Pejabat Yang Sangat Sederhana
Add caption


“Setiap orang adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya. Seorang raja/penguasa adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap rakyatnya…. “ (HR.Bukhari – Muslim)

Kehidupan para sahabat Nabi SAW banyak dipenuhi berbagai macam pribadi yang menawan yang menjadi suri teladan bagi generasi yang datang kemudian. Dan pangkal dari pribadi menawan itu adalah semata-mata karena dorongan keikhlasan dalam memeluk Islam dan menjalankan syariat-syariat- Nya. Bagi mereka, apapun resikonya mereka terima dan dihadapi dengan jiwa yang tabah, istiqamah. Yang penting Allah meridhai perjalanan dan perjuangan hidupnya. Semboyan yang berkembang ketika itu adalah “Hidup mulia atau mati syahid “.


Salah satu diantaranya ialah Salman Al Farisi. Ia adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat sederhana dan salah seorang sahabat yang gagah berani lagi cerdas otaknya. Ia mampu menciptakan teori penggalian parit sekitar Madinah, tatkala pasukan musuh mau menggempurnya. Ia juga dikenal sebagai salah seorang sahabat Nabi SAW yang memiliki akhlakul karimah, sehingga Rasulullah SAW memasukkannya ke dalam golongan Ahlul-Bait.

Sepeninggalan Rasulullah SAW, Khalifah Abu Bakar dan khalifah berikutnya menugasi Salman sebagai gubernur wilayah Mada’in. Salman sebetulnya menolak menduduki jabatan yang begitu tinggi itu.. Ia berkomentar, “Jabatan itu manis waktu memegangnya, tapi pahit waktu melepaskannya“. Tapi lantaran “dipaksa“, maka ia terima juga demi pengabdian kepada Allah. Karena itu ia pun sangat baik kepada rakyatnya dan hidup di tengah-tengah mereka.


Sebagai seorang amir, Salman menerima tunjangan sampai 6.000 dinar setahun (jumlah yang sangat sederhana untuk ukuran waktu itu). Meski demikian, hampir seluruh tunjangannya itu ia serahkan kepada fakir miskin. Ia cuma mengambil satu dirham yang digunakan sebagai modal untuk membeli daun dan pelepah korma yang lantas dianyam dan dijual sendiri ke pasar, laku tiga dirham. Uang tiga dirham itu dibagi tiga, satu dirham untuk modal, satu dirham untuk nafkah keluarga, dan satu dirham lagi untuk fakir miskin.
Begitulah selalu dilakukan oleh Salman Al Farisi, sebagai amir negeri Mada’in. 

Salman Al Farisi juga dikenal sebagai seorang pejabat yang senang membantu orang yang kesulitan. Satu hari misalnya, ketika ia melihat seorang Syria kerepotan membawa barang dagangannya maka secara spontan, Salman membawakan barang dagangan itu. Ditengah jalan, diantara anggota masyarakat ada yang mengenalnya dan mengucapkan salam “Assalamu’alaikum ya Amir “. Mendengar nama Amir disebut, orang Syria itu kaget bukan kepalang. Ia tidak mengira, jika “kuli“ yang membawa barangnya adalah Gubernur Negeri Mada’in. Dengan penuh rasa hormat, orang itu meminta barangnya untuk dibawanya sendiri. Tapi Salman tidak membolehkannya. Ia terus membawanya sampai ke tempat tujuan.

Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash datang ke rumah Salman, ia melihat Salman sedang sedih. “Demi Allah,“ kilah Salman kepada tamunya, “Saya bukan karena takut mati atau mengharap kemewahan hidup di dunia, tapi ingat pesan Rasulullah “Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengelana“. Padahal barang yang saya miliki cukup banyak, “ kata Salman mengakhiri tangisnya.

“Bangunan rumah Salman, hanya sekedar dapat digunakan bernaung di waktu panas dan berteduh di kala hujan. Jika penghuninya berdiri, kepalanya terantuk sampai langit-langit, dan jika berbaring kakinya sampai ke dinding. Sedang di dalamnya tak ada perabotan kecuali sebuah piring untuk makan dan baskom nuntuk persediaan air. Meski demikian, ia tetap risau, menganggap barang-barang yang dimilikinya masih berlebihan,“ tulis Badruzzaman Busyairi dalam buku ‘Bunga Rampai Ajaran Islam no 14 “. Masya Allah.

Di rumahnya, Salman tanpa ragu mengerjakan sendiri pekerjaan yang semestinya digarap pelayannya. Sedang rumahnya sangat sederhana, tidak mengesankan sebagai rumah seorang Gubernur. Sebaliknya lebih menyerupai rumah rakyat kecil yang miskin. Salman akhirnya wafat dalam keadaan bersih, tidak meninggalkan harta yang berarti, kecuali pesan-pesannya yang terus dikenang lantaran didukung oleh sikap dan sifat hidupnya yang sederhana dan ikhlas, yang sudah sangat jarang ditemukan dalam kehidupan akhir-akhir ini.

Artikel Lainnya :
7 Resep Kebiasaan Hidup Sehat Rasullulah Setiap Hari
Abu Bakar As-Shiddiq r.a Yang Dermawan


INFO PROMO DAN DAFTAR HARGA MOBIL BARU NISSAN & DATSUN
KREDIT TDP RINGAN DATSUN - KLIK DISINI...!

 

INFORMASI HARGA DAN PEMESANAN MOBIL NISSAN
Add caption

Tidak ada komentar:

Posting Komentar